Keputusan Búcaro untuk mengundurkan diri terjadi setelah deretan skandal mewarnai ajang Miss Universe 2025. Salah satu insiden paling menonjol adalah konfrontasi sengit yang terjadi pada 4 November 2025 antara Direktur Nasional Miss Universe Thailand Nawat Itsaragrisil dan Fátima Bosch, yang merupakan perwakilan dari Meksiko, dan kemudian dinobatkan sebagai pemenang kontes.
Video konfrontasi ini menjadi viral di media sosial, menciptakan citra yang kurang profesional bagi organisasi. Menyusul insiden tersebut, pemilik Miss Universe, Raul Rocha, mengumumkan sanksi keras terhadap Itsaragrisil, termasuk pembatasan kehadirannya dari kontes.
Namun, klaim dari mantan pemenang Miss Massachusetts USA, Melissa Sapini, yang mewakili Haiti di Miss Universe 2025, menambah daftar keruwetan. Sapini mengklaim kepada PEOPLE pada akhir November 2025 bahwa terlepas dari sanksi yang diumumkan, para kontestan secara teratur masih melihat Nawat terus beredar dalam minggu-minggu menjelang kontes.
Skandal dan Dampaknya Terhadap Miss Universe 2025
Ajang Miss Universe 2025 tidak hanya terkenal karena pesertanya yang menawan, tetapi juga karena kontroversi yang menyelubunginya. Konfrontasi antara Nawat dan Fátima menunjukkan adanya ketegangan di dalam panitia yang seharusnya menjaga citra positif. Insiden ini memperburuk situasi yang sudah penuh ketidakpastian.
Dalam industri kecantikan, profesionalisme sangatlah penting. Ketika sebuah organisasi terjebak dalam skandal, dampaknya bisa berkepanjangan. Apalagi, ajang seperti Miss Universe berfungsi tidak hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai platform untuk advokasi dan pemberdayaan perempuan.
Reaksi dari publik dan komunitas industri juga sangat cepat. Banyak yang merasa kesal dan kecewa terhadap organisasi yang seharusnya menjadi teladan dalam etika dan perilaku. Situasi ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya integritas dan reputasi di dunia yang penuh sorotan.
Pernyataan dan Tindakan Pemilik Miss Universe
Dari pihak pemilik Miss Universe, Raul Rocha, pernyataan terkait sanksi yang diberikan sangatlah jelas. Ia menegaskan bahwa tindakan keras diambil untuk melindungi reputasi kontes dan memastikan tidak ada kekacauan lebih lanjut. Namun, sanksi ini seolah menjadi boomerang ketika informasi mengenai kehadiran Nawat di sekitar kontestan tersebar.
Klaim dari Melissa Sapini menjadi sinyal bahwa meskipun sanksi telah diumumkan, pelanggaran etika tetap terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa ada kelemahan dalam sistem pengawasan yang seharusnya mencegah situasi semacam ini. Ketidakpercayaan publik terhadap penyelenggara pun semakin meningkat.
Terlepas dari semua itu, tindakan yang diambil oleh pemilik Miss Universe seharusnya menjadi contoh baik. Namun, jika mereka tidak dapat menegakkan disiplin secara konsisten, kepercayaan publik akan sulit dipulihkan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi organisasi untuk datangi kebangkitan reputasinya.
Persepsi Masyarakat terhadap Miss Universe di Tengah Kontroversi
Kontroversi semacam ini seringkali menciptakan persepsi negatif di masyarakat. Masyarakat modern lebih kritis terhadap organisasi yang tidak konsisten dalam menegakkan nilai-nilai integritas. Dalam hal ini, Miss Universe menghadapi tekanan untuk menyelaraskan tindakan dan kata-kata mereka.
Ada harapan bahwa kondisi ini tidak hanya menjadi momen kelam, tetapi juga dorongan untuk evaluasi internal di dalam organisasi. Ketika skandal muncul, itu bisa menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi yang lebih mendalam dan menghasilkan perubahan yang positif. Problematika ini bisa menjadi bahan refleksi untuk peningkatan lebih lanjut.
Penting untuk diingat bahwa ajang pencarian bakat ini memiliki dampak sosial yang luas. Kontroversi dapat menghasilkan perdebatan tentang peran dan tanggung jawab organisasi terhadap para pesertanya. Masyarakat berharap agar setiap kontes berkontribusi pada kemajuan dan pemberdayaan perempuan, bukan sebaliknya.










