Hanya sedikit orang yang memiliki kesempatan untuk menerima penghargaan emas langsung dari tangan presiden. Namun, Herlina, seorang perempuan asal Jakarta, memilih untuk menolak tawaran tersebut, yang menjadi sorotan dalam sejarah perjuangan bangsa.
Pada tahun 1963, ketika Presiden Soekarno menawarkan 500 gram emas senilai sekitar Rp1,2 miliar, Herlina dengan tegas mengembalikannya. Menurutnya, penghargaan tersebut terlalu berlebihan dan seharusnya menjadi simbol perjuangan kolektif, bukan sekadar kekayaan pribadi.
Pemberian emas tersebut merupakan pengakuan atas keberanian Herlina sebagai pahlawan perempuan, yang turut berjuang di garis depan. Di tahun yang sama, pemerintah Indonesia meluncurkan operasi untuk membebaskan Papua yang saat itu masih di bawah kendali Belanda, dan Herlina bersedia menjadi relawan perang.
Walaupun banyak yang meragukan keputusannya, perempuan yang dahulu bekerja sebagai jurnalis ini tidak gentar. Herlina menyatakan bahwa Indonesia saat itu telah berubah, dan wanita pun memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi bagi negara.
Ia terinspirasi untuk mengabdikan diri demi Tanah Air, sebagaimana dicantumkan dalam memoarnya yang berjudul Pending Emas: Pengalaman-pengalaman Selama Mendarat di Irian Barat. Dengan semangat juang, Herlina pun berangkat ke Makassar untuk bergabung dengan pasukan.
Perjuangan Heroik Seorang Pahlawan Perempuan
Di masa itu, semua perwira militer skeptis terhadap niat Herlina, kecuali Panglima Mandala, Mayjen Soeharto. Dia memberikan izin kepada Herlina untuk menyusup ke daratan Irian Barat dan turut berjuang dalam operasi tersebut.
Secara resmi, Herlina menjadi prajurit relawan yang terlibat dalam pertempuran pada tahun 1962. Dia ditugaskan untuk memimpin pasukan kecil dan berinteraksi dengan masyarakat Papua, menghadapi berbagai tantangan berat seperti tembakan peluru dan kelaparan.
Dalam sebuah artikel dari majalah Dharmasena, tercatat bahwa selama masa perang, dia sering kali tak luput dari ancaman jiwa. Namun, keberanian dan ketahanannya membuatnya melewati berbagai situasi kritis hingga perang berakhir pada tahun 1963.
Di usia 20 tahun, Herlina menjadi satu-satunya perempuan yang ikut berpartisipasi dalam pertempuran tersebut, menciptakan sejarah besar dalam perjuangan bangsa. Perjuangannya tak hanya diakui oleh orang-orang di sekelilingnya, tetapi juga oleh presiden yang memberikan bintang kehormatan.
Saat menerima penghargaan bintang kehormatan Dharma Bakti, Herlina tak bisa menahan air matanya. Dia merasakan kebanggaan yang mendalam atas perjuangan bersama rekan-rekannya, seperti dikutip dalam memoirnya yang menggugah.
Keputusan Berani di Tengah Tawaran Menggiurkan
Majoritas orang mungkin berpikir bahwa Herlina telah mendapat “durian runtuh” dengan tawaran emas tersebut. Namun, ia justru memilih untuk mengembalikan hadiah yang dianggap terlalu berlebihan itu, dan menegaskan bahwa penghargaan haruslah mewakili perjuangan kolektif, bukan simbol kekayaan pribadi.
Keputusan ini menunjukkan integritas dan prinsip yang dipegang Herlina. Ia percaya bahwa keberhasilan dalam perjuangan bangsa tidak bisa diukur dengan pengakuan material semacam itu.
Meskipun ia tidak mendapatkan kekayaan dari penghargaan presiden, Herlina membuktikan bahwa kesuksesannya dapat diraih dalam bidang lainnya. Dalam era Orde Baru, dia berhasil meraih kesuksesan di dunia bisnis.
Dia menjadi pemilik beberapa bioskop dan klub sepakbola, serta dikenal sebagai salah satu perempuan miliarder di Indonesia. Kisah suksesnya di dunia usaha menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama perempuan.
Herlina menghabiskan sisa hidupnya dengan prestasi yang membanggakan, meskipun akhirnya wafat pada tanggal 17 Januari 2017. Kehilangan sosoknya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang.
Warisan dan Inspirasi bagi Generasi Mendatang
Warisan yang ditinggalkan Herlina tidak hanya terletak pada pencapaiannya sebagai pejuang, tetapi juga sebagai individu yang mempunyai integritas tinggi. Dia membuktikan bahwa nilai-nilai perjuangan dan karakter tidak dapat diukur dengan materi.
Penghargaan yang ditawarkannya bukan hanya sekadar logam berharga, tetapi seharusnya dianggap sebagai simbol dari kolektifitas perjuangan rakyat. Dia mengingatkan kita semua bahwa sebuah bangsa dibangun melalui kontribusi semua elemen masyarakat.
Di dalam memoarnya, Herlina juga berbagi pedoman hidup yang dapat diadopsi oleh generasi mendatang. Ia mendorong anak-anak muda untuk tidak hanya mengejar kekayaan, tetapi juga berkontribusi untuk kemajuan bangsa.
Dengan demikian, kisah hidupnya mendorong banyak orang untuk memiliki semangat yang sama dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Herlina adalah contoh pahlawan sejati yang layak dikenang.
Dalam setiap langkah yang diambil generasi muda kini, nama Herlina akan selalu menjadi simbol keberanian dan pengabdian. Diharapkan, nilai-nilai yang dibawanya dapat terus hidup dan memberi inspirasi bagi kita semua.











