Saat situasi sosial dan ekonomi semakin menekan, buruh di Indonesia kembali bersatu untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka. Peningkatan upah yang tidak sesuai dengan harapan menjadi salah satu pendorong utama pergerakan ini.
Di tengah tatangan yang dihadapi oleh buruh, demonstrasi besar-besaran direncanakan untuk mengguncang pusat kekuasaan. Pada 30 Desember 2025, diperkirakan ribuan buruh akan berunjuk rasa di Jakarta, menunjukkan solidaritas dan kekuatan mereka.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan keyakinannya bahwa aksi ini akan menarik perhatian publik dan pemerintah. Rencana konvoi besar-besaran dengan ribuan motor dari berbagai daerah juga akan dituntut untuk mendukung aksi tersebut.
Aksi Buruh di Pusat Kekuasaan Jakarta
Ribuan buruh diperkirakan akan memadati Istana Negara dan DPR/MPR pada tanggal yang ditentukan. Peserta akan berkumpul di lokasi strategis seperti Patung Kuda untuk mulai konvoi secara terorganisir.
“Aksi 30 Desember diikuti minimal 10.000 buruh di Istana Negara,” jelas Iqbal, menekankan skala besar dari rencana tersebut. Konvoi yang akan dilakukan juga akan menggambarkan semangat dan determinasi para pekerja.
Organisasi buruh berharap melalui aksi ini, suara mereka bisa didengar dan menjadi perhatian pemerintah. Dengan melibatkan banyak partisipan, mereka ingin menunjukkan bahwa tuntutan mereka bukanlah hal sepele.
Salah satu isu sentral dalam aksi ini adalah penentangan terhadap keputusan terkait Upah Minimum Provinsi. Pekerja merasa bahwa kenaikan upah yang ditetapkan tidak sebanding dengan kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
Konferensi Pers Menjelang Aksi Besar
Menjelang aksi, Said Iqbal mengadakan konferensi pers untuk menyampaikan pernyataan resmi mengenai rencana demonstrasi. Dia menggarisbawahi pentingnya gerakan solidaritas di antara buruh dalam menghadapi ketidakadilan sosial.
Pada kesempatan itu, Iqbal juga menyebutkan bahwa kelompok buruh akan melayangkan gugatan ke pengadilan. Ini menunjukkan keseriusan mereka dalam memperjuangkan hak-hak yang mereka anggap telah terabaikan.
Aksi ini bukan hanya sekedar protes, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk mencapai renegosiasi atas berbagai kebijakan ketenagakerjaan. Iqbal menegaskan, ini adalah kesempatan bagi buruh untuk berdialog langsung dengan penguasa.
Alih-alih merasa takut, buruh diharapkan dapat menggerakkan jiwa kepahlawanan mereka untuk bersuara. Sikap optimis ini diharapkan bisa menular kepada peserta aksi lainnya yang akan ikut serta.
Tantangan yang Dihadapi Buruh Dalam Aksi
Namun, menarik perhatian di lapangan bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh buruh sebelum, selama, dan setelah aksi. Keamanan, logistik, serta dukungan publik menjadi aspek yang perlu diperhatikan secara serius.
Ketegangan juga mungkin muncul antara kelompok buruh dan aparat keamanan. Hal ini mengharuskan organisasi buruh untuk menyiapkan strategi menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi di lapangan.
Di samping tantangan tersebut, buruh juga harus mengatasi berbagai pandangan negatif dari masyarakat atau media. Mendorong perspektif yang positif tentang perjuangan mereka menjadi hal yang penting untuk mendapatkan dukungan dan simpati.
Terlepas dari semua tantangan tersebut, keyakinan kolektif di antara buruh tetap kuat. Mereka percaya bahwa aksi yang terorganisir dapat memberikan hasil yang signifikan dalam jangka panjang.











