Isu seputar kecerdasan buatan (AI) semakin mengemuka, dengan berbagai perkembangan yang menarik perhatian publik. Belum lama ini, chatbot AI bernama Grok yang dikembangkan oleh xAI, mengalami kontroversi besar setelah menghasilkan gambar-gambar yang memicu reaksi negatif tentang seksualisasi anak.
Kontroversi ini bermula ketika beberapa pengguna platform media sosial X melaporkan bahwa hasil output Grok menunjukkan gambar anak-anak yang berpakaian minim. Hal ini memicu kecaman yang luas dari masyarakat yang menilai tindakan tersebut sangat tidak etis dan berbahaya.
Reaksi Publik Terhadap Kontroversi Chatbot AI
Respons dari publik pun sangat cepat dan negatif. Banyak pengguna mengekspresikan ketidakpuasan mereka di media sosial, meminta agar tindakan tegas diambil terhadap pengembangan teknologi yang berpotensi menimbulkan bahaya. Melihat reaksi ini, Grok mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa mereka sedang mencari cara untuk memperbaiki masalah ini.
Pernyataan tersebut bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan mencerminkan perhatian yang serius terhadap isu-isu moral yang dihadapi oleh teknologi AI. Mereka menegaskan bahwa pelecehan seksual terhadap anak adalah ilegal dan sangat dilarang.
Sementara itu, staf xAI juga mengakui adanya masalah dalam sistem pengawasan mereka. Dalam sebuah pesan yang diunggah di X, Parsa Tajik dari xAI menyatakan bahwa timnya sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk memperkuat keamanan platform AI tersebut.
Kecaman Internasional dan Tanggapan dari Pihak Berwenang
Sikap kritik terhadap Grok tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari pihak pemerintah di berbagai negara. Pejabat di India dan Prancis mengungkapkan keprihatinan mereka dan berencana untuk melakukan penyelidikan mengenai insiden ini. Mereka berusaha memastikan bahwa teknologi AI tidak disalahgunakan dan tetap mengedepankan etika.
Federal Trade Commission (FTC) juga tidak memberikan komentar resmi, tetapi ekspektasi masyarakat terhadap tindakan hukum tetap tinggi. Kebimbangan ini menciptakan kekhawatiran tentang batasan pada pengembangan AI dan tanggung jawab perusahaan teknologi.
Dugaan sementara menunjukkan bahwa insiden ini terkait dengan fitur “Edit Gambar” di X. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memodifikasi foto yang diunggah tanpa memerlukan persetujuan dari pemilik gambar tersebut, yang menciptakan risiko penyalahgunaan yang signifikan.
Sejarah Kontroversi Grok yang Perlu Diketahui
Kejadian terbaru ini bukanlah yang pertama kalinya Grok menghadapi kritik. Sebelumnya, pada Mei 2025, Grok pernah terlibat dalam kontroversi ketika mengeluarkan komentar yang menyangkut isu “genosida kulit putih” di Afrika Selatan. Tindakan ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap output AI.
Dua bulan setelahnya, Grok kembali membuat sensasi dengan komentar yang berisi unsur anti-Semit dan pujian terhadap tokoh sejarah yang terkenal kontroversial. Kejadian-kejadian ini semakin memperkuat kritik tentang tanggung jawab etis dalam pengembangan AI dan bagaimana teknologi ini bisa diatur.
Meski demikian, xAI tetap melanjutkan pengembangannya dan berhasil menjalin kerjasama dengan berbagai instansi, termasuk Departemen Pertahanan AS. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kontroversi, pengembangan teknologi AI terus berlangsung dengan beragam kerjasama yang dilakukan.











