Pemandangan yang jarang ditemui muncul saat kita melintasi jalur penyeberangan antara Stasiun LRT Cikoko dan Stasiun KRL Cawang. Dua pemuda berwajah Timur Tengah berdiri di bawah tangga jalur tersebut, memegang kotak donasi bertuliskan “Palestina”.
Kedua pemuda itu mengenakan atribut khas Palestina, termasuk syal dan bendera kecil yang mereka pegang bersamaan dengan kotak donasi yang mereka bawa. Kehadiran mereka di lokasi itu bukanlah sesuatu yang baru; mereka hampir setiap hari berdiri di titik yang sama.
Saksi mata di sekitar jalur tersebut mengonfirmasi bahwa kehadiran mereka sudah berlangsung cukup lama. Açara ini menarik perhatian banyak orang yang melintas, menimbulkan rasa ingin tahu tentang tujuan mereka.
Menggali Kisah Diaspora Palestina di Indonesia
Pada Rabu sore, awak redaksi mendekati kedua pemuda tersebut untuk berbincang. Mereka mengaku bernama Basil dan Khaled, namun mengungkapkan bahwa mereka tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia dan lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris dan Arab.
Dalam percakapan tersebut, mereka menceritakan latar belakangnya yang menyentuh hati. Kedua pemuda ini tiba di Indonesia empat bulan lalu setelah melarikan diri dari konflik berkepanjangan di Gaza, tempat tinggal mereka yang dilanda ketidakstabilan.
Perjalanan mereka dimulai dari Gaza menuju Mesir dengan melewati jalur yang berisiko tinggi. Dari Mesir, mereka melanjutkan perjalanan ke Indonesia, berharap bisa mendapatkan perlindungan di negara yang dikenal ramah terhadap pengungsi.
Prosedur Legitimasi Keberadaan di Indonesia
Khaled menjelaskan bahwa mereka hanya perlu mengurus visa on arrival yang ditetapkan oleh pemerintah. Prosedur yang dijalani berjalan lancar dan petugas imigrasi menyambut mereka dengan baik ketika melihat paspor Palestina mereka.
Setelah membayar biaya administrasi, mereka pun mendapatkan izin yang sah untuk tinggal di Indonesia. Khaled dan Basil juga lapor diri ke kantor UNHCR untuk memastikan keberadaan mereka di bawah naungan badan internasional tersebut.
Dukungan dari UNHCR sangat penting bagi mereka untuk mendapatkan pemantauan dan izin tinggal yang lebih stabil tanpa harus berurusan rutin dengan pihak imigrasi.
Kendala Ekonomi dan Kesehatan di Tanah Perantauan
Namun, dengan tabungan yang terbatas, kehidupan mereka menjadi tantangan besar. Mereka tidak memiliki kerabat di Indonesia, sehingga harus membiayai kebutuhan hidup sendiri, mulai dari makanan hingga akomodasi.
Kendala semakin besar ketika Khaled harus menjalani pengobatan karena menderita kanker. Biaya pengobatan yang tinggi menjadi masalah pelik bagi keduanya.
Sejak mengetahui penyakit yang diderita Khaled, mereka berupaya mencari alternatif untuk membiayai pengobatan itu, tetapi tidak menemukan solusi yang memadai. Pengobatan di rumah sakit juga tidak bisa dilakukan dengan cepat, terutama karena paspor Khaled ditahan sebagai jaminan biaya berobat yang belum lunas.
Khaled berbagi bahwa dia telah menjalani dua kali operasi sebelumnya, namun kondisi kesehatan tidak kunjung membaik. Kini dia harus menjalani pengobatan rutin setiap dua minggu sekali untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Satu jenis obat yang dibutuhkan Khaled memiliki harga sekitar satu juta, sedangkan total ada tujuh jenis obat yang harus ditebus. Hal ini tentu membuat mereka harus berjuang lebih keras untuk mengumpulkan dana.
Basil mengungkapkan bahwa mereka berdua tidak akan berada dalam posisi ini jika bukan karena kondisi yang memaksa. Mereka terpaksa berdiri sepanjang hari di jalur tersebut untuk mengumpulkan donasi, berharap bisa mendapatkan bantuan yang diperlukan untuk pengobatan Khaled.
Harapan mereka sederhana, yaitu agar masyarakat Indonesia dapat memahami perasaan mereka sebagai pengungsi yang sedang mencari perlindungan dan pengertian.










