Bahar Bin Smith telah terjerat dalam sebuah kasus yang menghebohkan terkait dugaan penganiayaan seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang bernama Rida. Peristiwa ini terjadi di lokasi ceramah Bahar di acara Maulid Nabi Muhammad di Cipondoh, Kota Tangerang, pada tanggal 21 September 2026, yang dihadiri banyak orang yang datang untuk mendengarkan ceramahnya.
Ketua GP Ansor Kota Tangerang, Midyani, memberikan pernyataan yang menegaskan bahwa Rida tidak hanya merupakan anggota, tetapi juga seorang pengurus di Kecamatan Tangerang. Ia menekankan kepastian bahwa Rida adalah kader Ansor, sesuatu yang menjadi penting dalam konteks peristiwa tersebut.
“Saya memastikan 1.000% bahwa sahabat Rida adalah kader Ansor dan sekaligus Kasatkoryon Banser Kecamatan Tangerang,” tegas Midyani. Pernyataan ini menambah bobot pada klaim bahwa insiden penganiayaan yang dialami Rida bukanlah hal sepele dan melibatkan faktor identitas organisasi yang kuat.
Rincian Kejadian yang Menyebabkan Ketegangan di Acara Ceramah
Rida bersama sejumlah kader lainnya hadir di acara tersebut dengan harapan untuk dapat bersalaman dengan Bahar. Rida dikenal sebagai sosok yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan religius, sehingga kehadirannya di acara tersebut adalah bagian dari rutinitasnya.
Kehadiran Rida di lokasi ceramah menunjukkan bahwa ia memiliki niat baik. Dengan jarak yang hanya sekitar dua meter dari Bahar, Rida ingin melaksanakan tradisi tabarukan atau ngalap berkah, yang merupakan praktik umum di kalangan warga Nahdliyin.
Namun, situasi memanas ketika pengawal Bahar mulai mengamankan Rida. Rida dilaporkan mengalami pemukulan di depan panggung, situasi yang menciptakan ketegangan dan kebingungan di antara jemaah yang hadir. Hal ini menunjukkan bahwa ada ketidakpahaman yang mendalam di antara para pengawal dan pengunjung acara.
Ada laporan bahwa setelah insiden tersebut, Rida dibawa ke salah satu lokasi yang tidak diumumkan. Hal ini menjadi titik awal dari sorotan media dan perhatian publik terhadap kasus ini, yang menyoroti isu-isu yang lebih besar terkait hak asasi manusia dan kebebasan beragama.
Reaksi dari Masyarakat dan Organisasi Keagamaan
Setelah insiden tersebut, terdapat berbagai reaksi dari masyarakat dan organisasi keagamaan, terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama. Banyak yang mengecam tindakan pengawalan yang dianggap berlebihan dan tidak proporsional.
Gerakan Pemuda Ansor sebagai salah satu organisasi massa yang penting di Indonesia menyatakan bahwa mereka akan memberikan dukungan penuh kepada Rida. Mereka menginginkan keadilan dan akan memperjuangkan hak-hak anggota mereka yang merasa teraniaya.
Pernyataan yang dikeluarkan oleh Argun menambah kehebohan, di mana mereka menegaskan bahwa penganiayaan terhadap anggota mereka tidak dapat dianggap enteng. Ini tidak hanya menciptakan keseimbangan antara dua kelompok, tetapi juga memperlihatkan ketegangan yang ada di masyarakat.
Banyak masyarakat juga mengungkapkan keprihatinan bahwa insiden seperti ini dapat meningkat, mengganggu kedamaian dan kerukunan antarumat beragama. Oleh karena itu, dorongan untuk mediasi dan dialog antar pihak menjadi sangat penting untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Upaya Hukum dan Penegakan Keadilan
Kasus ini berpotensi menghasilkan langkah-langkah hukum dari pihak Rida maupun GP Ansor. Mereka berencana untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib agar tindakan hukum yang sesuai dapat diambil terhadap pengawal Bahar yang melakukan penganiayaan.
Pihak berwenang diharapkan dapat menangani kasus ini dengan adil dan transparan. Penegakan hukum yang tegas dibutuhkan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan dan untuk melindungi hak-hak setiap individu tanpa memandang latar belakang organisasi atau agama.
Masyarakat pun mulai menunggu tindakan nyata dari aparat hukum. Keadilan bagi Rida menjadi sorotan, dan banyak yang berharap agar situasi ini tidak hanya menjadi sebuah cerita tetapi membuka wacana tentang kebebasan beragama dan hak asasi manusia yang lebih luas.
Jika kasus ini mendapatkan perhatian serius, selain penegakan keadilan, juga bisa mendorong terjadinya dialog antar kelompok yang berpotensi bersengketa. Ini penting agar kerukunan di masyarakat dapat terjaga meskipun ada perbedaan di antara berbagai latar belakang.










