
Keluarga-keluarga super kaya saat ini semakin banyak yang memilih untuk melibatkan anak cucu mereka dalam perusahaan investasi pribadi atau yang dikenal dengan istilah family office. Namun, dibalik kemewahan yang terlihat, tantangan terkait gaji menjadi isu sensitif yang kerap memicu konflik di antara mereka.
Melibatkan generasi muda seperti milenial dan Gen Z dalam bisnis keluarga bukan hanya sekadar melestarikan kekayaan. Langkah ini dianggap strategis untuk memberikan mereka pengalaman dalam dunia kerja, terutama saat family office semakin agresif dalam berinvestasi di startup dan aset alternatif.
Namun, kata Joshua Gentine, seorang konsultan family office, menentukan besaran gaji yang adil bagi anggota keluarga ternyata jauh lebih rumit dibandingkan mempekerjakan profesional dari luar. Hal ini disebabkan oleh berbagai dinamika interpersonal yang ada di antara mereka.
Masalah Gaji dalam Keluarga Super Kaya dan Dinamikanya
Salah satu isu utama yang sering muncul adalah anggota keluarga sering kali menerima gaji yang lebih rendah dibandingkan dengan rekan-rekan profesional yang menduduki posisi serupa. Fenomena ini perlu dicermati lebih dalam agar tidak menimbulkan perasaan ketidakpuasan di dalam keluarga.
Gentine menjelaskan bahwa ada anggapan di kalangan keluarga kaya bahwa anggota keluarga tidak memerlukan gaji tinggi. Anggapan ini muncul karena mereka telah menikmati dividen atau memiliki kekayaan bersih yang cukup besar. Namun, pemikiran semacam ini sebenarnya tidak tepat karena setiap individu tetap memerlukan penghargaan yang layak atas kontribusi yang diberikan.
Rendahnya gaji tersebut sering kali menyebabkan ketidakpuasan di kalangan para ahli waris. Mereka cenderung merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukan negosiasi atau bahkan mempertimbangkan pindah kerja, karena rasa loyalitas yang mendalam dan ikatan emosional yang kuat.
Di sisi lain, muncul pertanyaan yang dilematis: siapkah mereka untuk meminta kenaikan gaji kepada orang tua atau anggota keluarga lainnya? Menurut Gentine, situasi ini menciptakan dinamika yang rumit, di mana mereka khawatir akan dicap serakah atau merusak hubungan yang telah terjalin.
Pada akhirnya, situasi seperti ini memerlukan keberanian untuk membuka dialog. Transparansi dalam mendiskusikan masalah gaji dan harapan di tempat kerja bisa membantu menciptakan suasana yang lebih baik.
Strategi untuk Mengatasi Masalah Gaji di Lingkungan Keluarga
Untuk mengatasi masalah ini, mungkin diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dalam menentukan gaji untuk anggota keluarga. Salah satu cara yang bisa diambil adalah dengan melakukan penilaian kinerja yang obyektif. Penilaian ini dapat dijadikan acuan untuk menentukan gaji yang lebih adil.
Penting bagi keluarga kaya untuk membangun struktur organisasi yang jelas di dalam family office. Hal ini akan memudahkan dalam pembagian tugas dan tanggung jawab serta menetapkan kriteria untuk penempatan gaji.
Selanjutnya, diskusi terbuka mengenai harapan dan ekspektasi antara anggota keluarga perlu didorong. Aspek komunikasi yang baik akan membantu menjamin bahwa semua orang berkontribusi pada tujuan yang sama.
Salah satu cara yang efektif adalah dengan menghadirkan pihak ketiga sebagai mediator. Mediator ini dapat memberi perspektif yang lebih netral dan membantu keluarga mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
Selain itu, mengatur waktu untuk menilai kembali gaji secara berkala bisa menjadi solusi kreatif. Hal ini memberikan kesempatan bagi anggota keluarga untuk meninjau dan merundingkan gaji mereka dengan lebih tenang.
Pentingnya Membangun Etika Kerja yang Sehat di Keluarga
Pengembangan etika kerja yang baik di dalam keluarga menjadi salah satu faktor utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis. Anggota keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai nilai-nilai yang dipegang dalam bisnis keluarga.
Salah satu aspek penting adalah menghargai kontribusi setiap individu, tidak hanya dari segi finansial, tetapi juga dari segi usaha dan dedikasi. Ini bisa menjadi cara untuk menghindari rasa cemburu dan kompetisi yang tidak sehat di antara anggota keluarga.
Selanjutnya, menciptakan budaya kerja yang inklusif dan mendukung juga perlu menjadi perhatian. Setiap anggota keluarga harus merasa dihargai dan memiliki peluang yang sama untuk berkembang.
Pola komunikasi yang baik juga harus diterapkan. Membuka ruang diskusi akan membuat semua orang merasa terlibat dan memiliki suara dalam setiap pengambilan keputusan yang diambil.
Pada akhirnya, membangun etika kerja yang sehat akan memperkuat ikatan di antara anggota keluarga sekaligus meningkatkan efisiensi dalam menjalankan bisnis family office.







