Keteladanan KH Saifuddin Zuhri sebagai Menteri Agama di era Presiden Soekarno patut di contoh karena integritas dan kesederhanaannya. Sepanjang masa jabatannya, ia dikenal karena sikapnya yang menolak adanya korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta keputusannya untuk tidak menggunakan rumah dinas yang disediakan untuknya.
Pada saat dilantik pada 2 Maret 1962, Saifuddin tidak menganggap jabatan tersebut sebagai kesempatan untuk mencari kehormatan. Justru, ia merasa ragu dan takut, merasa masih banyak sosok lain yang lebih mumpuni dibanding dirinya dan menginginkan waktu untuk merenungkan keputusan itu.
Setelah melakukan refleksi dan meminta nasihat dari kalangan ulama, ia akhirnya menerima amanah tersebut. Dalam autobiografinya, Saifuddin menyampaikan kekhawatirannya terkait tanggung jawab yang harus dipikul untuk menjaga stabilitas kehidupan beragama di Indonesia.
Kepemimpinan yang Berintegritas dan Sederhana
Saifuddin Zuhri melihat jabatannya sebagai Menteri Agama bukan hanya sekadar posisi, melainkan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia memiliki pandangan tegas mengenai penggunaan fasilitas negara, termasuk rumah dinas yang dianggapnya sebagai bentuk keserakahan jika diterima.
Keputusannya untuk tidak menempati rumah dinas, meskipun berhak, menunjukkan komitmennya terhadap prinsip-prinsip dasar etika dan moralitas. “Jika Menteri Agama sudah serakah, lalu bagaimana dengan yang lain?” ujarnya dengan tegas saat menolak fasilitas tersebut.
Selama masa jabatannya, Saifuddin memilih untuk tinggal di rumah pribadinya di Kebayoran Baru, Jakarta. Pada tahun-tahun setelahnya, ia bahkan membeli rumah baru dan menyicilnya, yang kemudian disumbangkannya kepada organisasi Nahdlatul Ulama setelah lunas.
Menolak Tawaran yang Menggiurkan demi Prinsip
Keputusan Saifuddin untuk menyumbangkan rumahnya kala itu menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang, terutama kalangan elit NU. Rumah itu dianggap sebagai aset yang layak diwariskan kepada keluarganya, mengingat Saifuddin memiliki banyak anak.
Akan tetapi, ada tawaran sebesar Rp200 juta dari seorang pembeli yang ingin membeli rumah tersebut agar tidak disumbangkan secara cuma-cuma. Saifuddin dengan tegas menolak tawaran itu, menganggapnya sebagai tantangan untuk tetap berpegang pada prinsip yang diyakininya.
“Siapa tahu aku tergoda oleh tawaran itu dan mengubah niatku untuk menyumbang,” jelas Saifuddin yang memiliki kedudukan penting dalam struktur NU, mengingat perjalanan panjang kehidupannya di organisasi tersebut.
Membangun Etika dalam Hubungan Keluarga dan Jabatan
Integritas Saifuddin juga terlihat dari keteguhannya menolak permintaan dari anggota keluarga demi menjaga etika. Ketika adik iparnya, seorang veteran kemerdekaan, meminta bantuan untuk berangkat haji, Saifuddin menolak permohonan itu.
Menurutnya, permintaan tersebut bisa dianggap sebagai penyalahgunaan jabatan, sebab hubungan keluarga tidak seharusnya membawa privilese dalam urusan yang seharusnya berbasis pada keadilan dan prinsip. Ia menyatakan, “Jika kamu orang lain, sudah lama aku hajikan,” sebagai pernyataan tegas tentang kedudukan etika di atas hubungan pribadi.
Menyusul lengsernya dari jabatan menteri pada tahun 1967, Saifuddin melanjutkan hidup sederhana dengan berdagang serta mengajar. Kehidupan sederhana ini tidak mengubah komitmennya untuk terus berkontribusi kepada masyarakat hingga akhir hayatnya.
Warisan yang Ditinggalkan kepada Generasi Muda
Jejak pengabdian KH Saifuddin Zuhri tidak berhenti di dalam dirinya saja. Dekade-dekade setelah dia meninggalkan kursi Menteri Agama, nasihat dan ajarannya tetap hidup di dalam berbagai generasi. Momen penting muncul ketika putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, diangkat sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Kerja di bawah Presiden Joko Widodo.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan oleh KH Saifuddin Zuhri tidak hanya diingat tetapi juga diteruskan kepada generasi berikutnya. Integritas dan komitmennya untuk melayani masyarakat adalah warisan berharga bagi semua kalangan, terutama para pemimpin saat ini.
Dengan demikian, jejak perjalanan hidup Saifuddin tidak sekadar menjadi ingatan, tetapi sebuah inspirasi bagi banyak orang dalam menerapkan prinsip-prinsip kehidupan yang lebih baik di masyarakat. Ini adalah pengingat bahwa kepemimpinan bukanlah tentang kekuasaan, tetapi tentang amanah, kejujuran, dan pengabdian tanpa pamrih kepada bangsa.









