Dalam pekan terakhir Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh aksi jual besar-besaran yang dilakukan oleh para investor asing, terutama setelah pengumuman penting dari MSCI yang mempengaruhi sentimen pasar.
Data yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa IHSG mengalami penurunan sebesar 6,34%, yang membawa indeks tersebut ke posisi 8.329,60. Dalam periode itu, IHSG mencapai level tertinggi di 9.058,04 dan level terendah di 7.481,98, mencerminkan volatilitas di pasar saham.
Di tengah penurunan ini, kapitalisasi pasar saham juga mengalami penurunan signifikan, mencapai 7,37% sehingga total kapitalisasi pasar berkurang menjadi Rp 15.046 triliun. Sementara itu, ada beberapa area di pasar yang menunjukkan peningkatan, seperti nilai transaksi harian yang meningkat pesat menjadi Rp 43,76 triliun.
Dampak Aksi Jual Investor Asing terhadap IHSG
Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan IHSG adalah aksi jual yang dilakukan oleh investor asing. Dalam sepekan, investor asing tercatat melakukan penjualan saham sebesar Rp 13,92 triliun, jauh lebih besar dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang hanya mencapai Rp 3,25 triliun.
Aksi jual massal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor domestik dan menciptakan tekanan tambahan pada pasar. Penentuan investor asing untuk melepas saham menandakan adanya ketidakpastian yang meliputi kondisi ekonomi global dan domestik saat ini.
Secara kumulatif, hingga awal tahun 2026, investor asing telah melepas saham senilai Rp 9,88 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa tren jual yang tidak seimbang ini dapat berdampak lebih jauh pada sentimen pasar dan menyebabkan fluktuasi harga saham yang lebih besar.
Perkembangan Transaksi Harian di BEI
Meskipun IHSG mengalami penurunan, ada peningkatan yang signifikan dalam nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia. Rata-rata nilai transaksi harian meningkat sebesar 29,28% menjadi Rp 43,76 triliun, menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan tetap ramai meskipun ada penurunan indeks.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami peningkatan sebanyak 1,59%, menjadi 3,82 juta kali transaksi. Ini mencerminkan bahwa meskipun ada aksi jual, para investor masih aktif bertransaksi di pasar saham.
Namun, di sisi lain, volume transaksi harian merosot 3,69% menjadi 63,3 miliar saham. Penurunan ini menunjukkan bahwa meskipun nilai per transaksi meningkat, jumlah total saham yang diperdagangkan cenderung menurun, menggambarkan adanya pergeseran dalam kecenderungan para investor.
Melihat Peluang dalam Situasi Pasar yang Memanas
Di tengah situasi pasar yang tidak menentu ini, banyak analis dan investor berusaha mengidentifikasi peluang untuk berinvestasi. Penurunan harga saham dapat dipandang sebagai kesempatan untuk membeli dengan harga lebih rendah, terutama untuk saham-saham yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.
Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa setiap tindakan investasi perlu dilakukan dengan hati-hati dan analisis yang mendalam. Setiap investor harus memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan pasar, termasuk kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan situasi global.
Penting bagi para investor untuk tidak panik dan tetap berkomitmen pada rencana investasi jangka panjang mereka. Meskipun terdapat risiko, kondisi pasar yang berfluktuasi sering kali membuka peluang baru bagi para investor yang jeli.










