Perumda Dharma Jaya memperkirakan bahwa harga daging sapi akan mengalami kenaikan antara 7% hingga 15% menjelang bulan Ramadan dan Lebaran pada tahun 2026. Hal ini menjadi perhatian karena harga pangan, terutama daging sapi, memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi dan pola konsumsi masyarakat di ibu kota.
Kepala Divisi Perencanaan Korporasi dan Transformasi Perumda Dharma Jaya, Afan Wahyu, menyatakan bahwa harga daging sapi pada bulan Ramadan diprediksi berada di kisaran Rp143.000 hingga Rp146.000 per kilogram. Lonjakan harga ini sering kali terkait dengan tingginya permintaan pada momen-momen Hari Besar Keagamaan, seperti Ramadan dan Lebaran.
Kenaikan harga daging sapi di Jakarta sering kali dipengaruhi oleh tingginya permintaan pada bulan-bulan tertentu, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan. Daging sapi merupakan salah satu pangan pokok yang dicari pada saat-saat tersebut, yang mengarah pada peningkatan konsumsi yang signifikan.
Peningkatan permintaan ini biasanya mencapai 58% pada periode H-30 hingga H+7 Lebaran. Dengan begitu, tidak heran jika harga daging sapi rentan mengalami fluktuasi yang tajam.
Sebagian besar pasokan daging sapi di Jakarta berasal dari luar daerah, yang mencakup kerja sama antara daerah, BUMD, BUMN, serta sektor swasta. Hal ini penting untuk dicatat mengingat Jakarta tidak memiliki basis produksi daging sapi yang memadai.
Analisis Pasar Daging Sapi Menjelang Bulan Suci
Prediksi kenaikan harga daging sapi harus dilihat dari berbagai faktor yang mempengaruhi pasar. Dalam konteks ini, konsumsi daging sapi cenderung mengalami lonjakan menjelang bulan suci Ramadan dan Lebaran, di mana kebutuhan akan daging meningkat. Peningkatan ini tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada umumnya, konsumen cenderung meningkatkan pembelian daging untuk memenuhi kebutuhan acara keagamaan yang lebih intens. Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan keagamaan yang melibatkan konsumsi daging sapi menjadi pendorong utama dalam kenaikan permintaan.
Sementara itu, meski pasokan daging sapi berlimpah dari daerah lain, tantangan tetap ada dalam hal pengiriman dan distribusi. Ini mengingat Jakarta sebagai pusat ekonomi sering kali menghadapi masalah logistik, terutama dalam momen puncak permintaan.
Untuk itu, penting bagi pihak terkait untuk mempersiapkan strategi distribusi yang efisien agar kebutuhan konsumen dapat terpenuhi tanpa terjadi lonjakan harga yang berlebihan. Kalangan pelaku usaha di sektor daging sapi juga perlu memantau dinamika pasar agar dapat beradaptasi dengan cepat.
Selain itu, fluktuasi harga daging kerbau juga turut memberi dampak. Daging kerbau sering kali berfungsi sebagai stabilisator harga, dan ketika harga daging kerbau melambung, otomatis akan mempengaruhi harga daging sapi di pasar.
Ketersediaan Stok Daging Sapi di Jakarta
Jakarta adalah daerah yang sangat bergantung pada pasokan daging sapi dari luar kota. Sekitar 90% kebutuhan daging sapi dipasok dari daerah lain, baik melalui kerjasama antar daerah maupun impor. Hal ini tentu menimbulkan tantangan terkait ketahanan pangan di kawasan urban.
Dalam satu tahun, kebutuhan daging sapi di Jakarta dapat mencapai 73.100 ton. Dengan tingkat konsumsi per kapita yang berkisar antara 2,3 hingga 5 kg per tahun, pemenuhan stok daging sapi menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan.
Oleh karena itu, pengaturan dan pemantauan pasokan menjadi penting, terutama menjelang masa-masa puncak. Kehadiran BUMN dan BUMD dalam penyediaan daging sapi diharapkan dapat membantu menjamin ketersediaan dan kestabilan harga di pasar.
Ketika pedagang daging sapi memperhentikan aksi mogok, harga daging di pasar pun mulai bergerak naik. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar daging terhadap perubahan tindakan dari para pelaku pemasar.
Keberadaan daging kerbau sebagai alternatif juga menjadi menarik untuk dibahas, terutama ketika harga daging sapi merangkak naik. Daging kerbau saat ini menjadi opsi bagi konsumen yang mencari harga yang lebih terjangkau tetapi tetap berkualitas.
Pemantauan Harga Daging di Pasar Tradisional dan Modern
Penting bagi konsumen untuk terus memantau perkembangan harga daging di pasar, baik tradisional maupun modern. Dengan begitu, para pembeli dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam berbelanja. Tren harga daging biasanya berfluktuasi, dan informasi terkini sangat vital dalam membantu konsumen.
Kenaikan harga daging sapi sering kali dapat diramalkan jika seorang konsumen memahami pola atau periode tertentu dalam setahun. Misalnya, menjelang bulan Ramadan, konsumen dapat memperkirakan bahwa harga akan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan.
Oleh karena itu, adanya transparansi dalam informasi harga dan pasokan sangat penting. Ini tidak hanya bermanfaat bagi konsumen, tetapi juga bagi pedagang dalam menentukan strategi pemasaran yang lebih efisien.
Selain itu, penting untuk mendukung produsen lokal agar dapat berkontribusi lebih dalam memenuhi kebutuhan pasar daging sapi. Ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Kesesuaian antara permintaan dan penawaran di pasar daging sapi akan menentukan stabilitas harganya. Hal ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan konsumen dalam menciptakan ekosistem pasar yang sehat.










