Tentara merupakan simbol keberanian dan pengabdian kepada negara. Namun, bergabung dengan pasukan asing, seperti yang dialami oleh Sudirman Boender, bisa berarti menjalani pengalaman yang penuh risiko dan tantangan yang sangat besar.
Sudirman Boender, seorang pemuda asal Yogyakarta, berada di Amerika Serikat saat Perang Dunia II meletus. Dalam keadaan yang mendesak, dia terpaksa menghadapi kenyataan yang tidak terduga, yakni bergabung dengan tentara AS melalui program wajib militer, yang mengubah hidupnya selamanya.
Dalam proses seleksi, Boender menunjukkan kemampuannya dan terpilih sebagai salah satu dari sedikit prajurit yang bergabung dengan Underwater Demolition Team (UDT). Pasukan ini dikenal sebagai cikal bakal NAVY SEAL, yang berfokus pada misi-misi berisiko tinggi di bawah air dan di pantai.
Menghadapi Pertempuran Paling Berdarah dalam Sejarah
Pada tahun 1945, Boender terlibat dalam salah satu pertempuran paling brutal yang tercatat dalam sejarah, yaitu Pertempuran Iwo Jima. Pulau ini merupakan titik strategis yang dikuasai Jepang, dibentengi dengan sistem pertahanan yang sangat kuat, termasuk bunker dan lorong-lorong bawah tanah.
“Tujuh puluh dua hari sebelum hari-H, Iwo Jima dipenuhi jutaan ton bahan peledak, tetapi serangan itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan,” kenang Boender dalam memoirnya. Benteng pertahanan Jepang yang tangguh benar-benar mengubah jalannya pertempuran.
19 Februari 1945 menjadi hari yang menentukan bagi Boender dan rekan-rekannya. Dengan semangat membawa perubahan, mereka mendarat di pantai Iwo Jima di bawah kondisi yang tampak tenang. Namun, keheningan itu hanya menipu, dan mereka segera menyadari bahwa mereka terjebak dalam perangkap mematikan.
Saat-Saat Menentukan Kehidupan dan Kematian
Suasana tenang sebelum badai berubah drastis saat serangan mengejutkan datang dari arah yang tidak terduga. Tembakan mortir, senapan mesin, dan meriam pantai mengguncang tanah, menciptakan kekacauan di mana-mana.
Boender dan pasukannya harus berjuang untuk bertahan hidup dalam situasi yang tidak terbayangkan. Dalam kerumunan ledakan dan teriakan, mereka berusaha mencari tempat berlindung sambil membalas tembakan, menjadikan setiap detik krusial dalam mempertahankan hidup.
“Kondisi di lapangan sangat mencekam. Tembakan datang dari semua arah, dan kami harus terus bergerak untuk tetap hidup,” ungkap Boender, mengisahkan pengalaman yang menakutkan ini.
Keberanian di Tengah Keterpurukan
Kekacauan saat Pertempuran Iwo Jima menuntut pengorbanan yang sangat besar. Tubuh rekan-rekannya terjatuh, dan pemandangan mengerikan itu menjadi gambaran nyata dari kebangkitan perang yang lebih besar.
Di tengah momen kelam ini, Boender tetap berjuang meskipun nyawanya terancam. Dilenyapkan oleh panasnya pertempuran, ia berulang kali nyaris kehilangan nyawa tetapi tetap berhasil bertahan hingga akhir pertempuran yang brutal itu.
Setelah lima minggu yang panjang, pulau Iwo Jima berhasil direbut. Kemenangan itu datang dengan harga yang sangat mahal, tetapi Boender dan pasukannya menunjukkan semangat juang yang luar biasa dalam menghadapi situasi yang paling sulit sekalipun.
Melanjutkan Perjuangan di Tanah Air
Setelah mengalami pertempuran yang mengubah hidupnya, Boender kembali berjuang di medan perang lain hingga perang resmi berakhir pada bulan Agustus 1945. Meskipun ditandai dengan kesedihan dan kehilangan, pengalamannya menjadikannya sosok inspiratif.
Menuju ke Indonesia, ia kembali untuk berkontribusi dalam membina pasukan. Peran yang diambilnya dalam kemiliteran Indonesia ternyata sangat berarti, terutama dalam pembentukan satuan elite yang dikenal dengan nama Kopassus.
Sudirman Boender menjadi simbol harapan dan keberanian. Ia tidak hanya membawa pengalaman perang, tetapi juga pelajaran berharga tentang kekuatan dan ketahanan menghadapi tantangan, baik di medan perang maupun kehidupan sehari-hari.











